Surga Terindah Bagi Orang yang Ikhlas

Setiap manusia yang beriman di dunia ini pasti menginginkan dan mendambakan bisa masuk surga. Betapa tidak, sedangkan surga adalah kenikmatan dan kesenangan tertinggi yang dijanjikan oleh Sang Pencipta jagad raya ini. Terlalu sulit bagi kita membayangkan keindahan dan keagungan surga secara pasti. Gemerlap dan segala kemewahannya pasti tidak ada di dunia ini. Lalu, apakah kunci surga itu? Kunci surga adalah kalimatul ikhlas. Kalimat ikhlas adalah sebuah ungkapan kesaksian kepada Tuhan yang diucapkan dengan ketulusan dan keikhlasan. Tanpa keikhlasan, maka ia tidak dinamakan kalimat ikhlas. Diceritakan dalam sebuah hadis:

“Datanglah malaikat maut menemui seorang laki-laki yang hendak meninggal. Lalu malaikat itu merobek hatinya dan tidak menemukan satu kebaikan pun padanya. Kemudian ia merobek kedua janggutnya, maka ia menemukan ujung lidahnya melekat dengan langit-langit mulutnya. Dia berkata, ‘La ilaaha Illallah’ (tiada Tuhan selain Allah). Maka Allah mengampuninya dengan kalimatul ikhlas.” (HR. Ibnu Abi Dunnya, Baihaqi, dan Daelami)

Ternyata hanya dengan keikhlasan, surga Allah itu dapat diraih. Ternyata hanya dengan keikhlasan, seorang hamba mampu selamat dari siksa neraka. Rasulullah saw. pernah menceritakan ada seseorang yang hanya karena menyingkirkan sepucuk duri dari tengah jalan, maka kepadanya diganjar dengan rahmat oleh Allah swt., sehingga meraih surga. Mengapa bisa begitu? Ternyata pada saat dia memungut duri itu, hatinya teramat ikhlas. Dia tidak ingin duri itu mencederai para pengguna jalan. Dia mengharapkan rahmat dan keridhaan Allah semata.

Ada lagi kisah tentang seorang wanita pemaksiat, tapi bisa diampuni dosanya dan diberikan rahmat oleh-Nya, lantaran memberi minum seekor anjing yang tengah kehausan. Wanita itu sangat kasihan melihat penderitaan anjing, sehingga hatinya tergugah untuk memberinya minum, walaupun ia harus turun ke dalam sumur untuk mencedok air dengan menggunakan sepatunya.

Dua kisah sebagaimana yang diceritakan dalam hadis yang sahih ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa betapa tingginya dan berharganya nilai sebuah keikhlasan. Andai saja seseorang dalam satu kesempatan hidupnya sanggup mengerjakan satu amal saja dengan ikhlas, walaupun amal itu hanya seberat atom, sedangkan ia orang yang beriman, tentu ia akan masuk surga.

Jika kita mendapatkan seseorang yang ikhlas dalam setiap perilaku dan amalnya, maka ketahuilah, ia adalah seorang ahli surga. Walaupun ia orang yang tidak banyak amalnya, dan walaupun ia tidak dikenal oleh orang banyak dengan kesalehannya. Diceritakan dalam al-Hadis, bahwa suatu ketika Rasulullah saw. menatap satu per satu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majelis, hening dan tawadlu. “Ya Rasulullah,” ujar salah seorang hadirin memecahkan keheningan. “Bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah engkau menjawabnya.”

“Apa yang hendak engkau tanyakan itu,” tanya Rasulullah dengan nada suara yang begitu lembut.

Dengan sikap yang agak tegang si sahabat itupun langsung bertanya, “Siapakah di antara kami yang akan menjadi ahli surga?” Tiba-tiba, bagai petir menyambar, jiwa-jiwa yang tadinya tawadhu, nyaris menjadi luka karena murka.

Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya mengandung ‘ujub (bangga atas diri sendiri) atau riya’. Adalah Umar bin Khattab yang sudah terlebih dahulu bereaksi, bangkit untuk menghardik si penanya. Untunglah Rasulullah menoleh ke arahnya sambil memberi isyarat untuk menahan diri.Rasulullah menatap ramah. Beliau dengan tenangnya menjawab, “Engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi orangnya akan muncul.”

Lalu setiap pasang mata pun menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebut Rasulullah ahli surga itu. Sesaat berlalu dan orang yang mereka tunggu pun muncul. Namun manakala orang itu mengucapkan salam kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan mereka semakin bertambah. Jawaban Rasulullah rasanya tidak sesuai dengan logika mereka. Sosok tubuh itu tidak lebih dari seorang pemuda sederhana yang tidak pernah tampil di permukaan. Ia adalah sepenggal wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam daftar sahabat dekat Rasulullah.

Apa kehebatan pemuda ini? Setiap hati menunggu penjelasan Rasulullah. Menghadapi kebisuan ini, Rasulullah saw. bersabda:

“Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridha Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”

Wallahu a’laam bish shawab.[]

Dari buku Dahsyatnya Ikhlas, Penulis: Mahmud Ahmad Mustafa Penerbit: MedPress Digital 2012

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *