Mengharukan!!! Kisah Buya Hamka Mengobati Kegalauan Hati dengan Membaca Buku Tasauf Moderen

Sebelum dijadikan buku”Tasauf Moderen” adalah menjadi satu kolom dalam majalah yang saya pimpin di Medan: Pedoman Masyarakat”, karena banyak permintaan pembaca, kemudian dijadikan buku dan keluarlah Cetakan Pertama pada bulan Agustus 1939. Tiga puluh tahun yang lalu. (91 tahun lalu, bila di tahun 2020 ini – red)

Banyak saya menerima sambutan atas buku ini dari sahabat-sahabat karib saya. Ada yang masih hidup dan sudah meninggal. Seorang dokter sahabat saya, sesudah Perang Dunia II ini juga, pernah menasihatkan pada pesakit yang tengah dirawatnya agar membaca “Tasauf Moderen”, guna mententeramkan jiwanya dan melekaskan sembuhnya. Beberapa orang suami isteri yang bahagia mengatakan bahwa “Tasauf Moderen” adalah sebagai patri hidup bahagia mereka. Ada yang mengatakan setiap keluaran hidup bahagia mereka. Ada yang mengatakan setiap keluaran cetakan yang baru terus dia membeli. Sebab buku yang ada padanya kerapkali dipinjam kawan dan tidak dikembalikan lagi.

Akhirnya Pengarangnya sendiri pun terlepas dari bahaya besar, yaitu bahaya kekal dalam neraka jahanam sesudah hancur nama sendiri dan nama keturunan karena pertolongan “Tasauf Moderen”! Pada hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Hanuari 1964 kira-kira pukul 11 pagi, saya dijemput ke rumah kawan saya, ditangkap dan ditahan. Mulanya dibawa ke Sukabumi.

Diadakan pemeriksaan yang tidak henti-henti, siang malam, petang pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja. 1001 pertanyaan, yah 1001 yang ditanyakan. Yang tidak henti-henti selama 15 hari 15 malam. Di sana sudah ditetapkan terlebih dahulu bahwa saya mesti bersalah. Meskipun kesalahan itu tidak ada, mesti diadakan sendiri. Kau belum mengaku berbuat salah, jangan diharap akan boleh tidur. Tidur pun diganggu!

Kita pasti akan bersalah. Di sana mengatakan kita mesti bersalah.

Kita mengatakan tidak. Di sana mengatakan ya! Sedang di tangan mereka ada pistol. Satu kali pernah terdengar satu ucapan yang belum pernah saya dengar selama hidup. “Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia!”

Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat! Ayah saya adalah seorang Alim Besar. Dari kecil saya dimanjakan oleh masyarakat, sebab saya anak orang alim. Sebab itu, ucapan terhadap diri saya di waktu kecil adalah ucapan kasih. Pada usia 16 tahun saya diangkat menjadi Datuk menurut adat gelar pusaka saya ialah Datuk Indomo.

Sebab itu dalam usia 12 tahun saya dihormati secara adat. Lantaran itu sangatlah jarang orang mengucapkan kata-kata kasar terhadap saya. Kemudian saya pun meningkat dewasa. Saya mencampuri sedikit sebanyak perjuangan menegakkan masyarakat bangsa, dari segi agama, dari segi karang mengarang, dari segi pergerakan Islam, Muhammadiyah dan lain-lain. Pada tahun 1959 Universitas Al-Azhar memberi saya gelar Doktor Honoris Causa, karena saya dianggap salah seorang ulama yang terbesar di Indonesia.

Sekarang terdengar saja ucapan: “Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia”

Gementar tubuh saya menahan marah, kecil polisi yang memeriksa dan mengucapkan kata-kata itu saya pandangi, dan pistol ada dipinggangnya. Memang kemarahan saya itulah supanya yang sengaja dibangkitkannya. Kalau saya melompati dia dan menerkamnya, tentu sebutir peluru saja dapat merobek dada saya. Dan besoknya tentu sudah dapat disiarkan berita di surat-surat khabar: “Hamka lari dari tahanan, lalu dikejar, tertembak mati!”

Syukur Alhamdulillah kemarahan itu dapat saya tekan, dan saya insaf dengan siapa saya berhadapan. Saya yang tadinya sudah mulai berdiri terduduk kembali dan meloncatlah tangis saya sambil meratap: Janganlah saya disiksa seperti itu. Buat sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulang lagi!”

“Memang saudara pengkhianat!” katanya lagi dan dia pun pergi sambil menghempaskan pintu. Remuk rasanya hati saya. Mengertilah saya sejak dari itu mengapa segala barang tajam wajib dijauhkan dari tahanan yang sedang diperiksa. Di saat seperti itu, setelah saya tinggal seorang diri, datanglah tetamu yang tidak diundang, dan memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu adalah syaitan! Dia membisikkan ke dalam hati saya, supaya saya ingat bahwa dalam simpanan saya masih ada pisau silet. Kalau pisau kecil itu dipotong saja pada urat nadi, sebentar kita sudah mati. Biar orang tahu kita mati karena tidak tahan menderita.

Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalam batin saya, di antara perdayaan iblis dengan Iman yang telah berpuluh tahun saya pupuk ini. Hampir saya telah membuat surat wasiat kepada anak-anak di rumah. Tetapi Alhamdulillah: Iman saya menang.

Saya berkata kepada diriku: “Kalau membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah kematianmu. Engkau ditemui membunuh diri dalam bilik oleh karena bersasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat dan air mata sejak puluhan tahun.

Dan ada orang berkata: Dengan bukunya “Tasauf Moderen” dia menyeru orang agar bersabar, tabah dan teguh hati bila menderita satu percubaan Tuhan. Orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk syurga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka”

Jangankan orang lain, bahkan anak-anak kandungmu sendiri akan menderita malu dan menyumpah kepada engkau. Syukur Alhambulillah, perdayaan Syaitan itu kalah dan dia pun mundur. Saya menang! Saya menang! Klimaks itu telah terlepas.

Setelah selesai pemeriksaan yang kejam seram itu, mulailah dilakukan tahanan berlarut-larut. Akhirnya dipindahkan ke rumah sakit Persahabatan di Rawamangun Jakarta, karena sakit. Maka segeralah saya minta kepada anak-anak saya yang selalu melihat saya (bezoek) agar dibawakan “Tasauf Moderen” Saya baca dia kembali di samping membaca Al-Quran.¬†Pernah seorang teman yang datang, mendapati saya sedang membaca “Tasauf Moderen”. Lalu dia berkata:

“Eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka!

“Memang!” – jawab saya: “Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri sesudah selalu memberi nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah ramai orang memberitahu kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangan dengan membaca buku “Tasauf Moderen” ini! Teringatlah saya kepada peristiwa-peristiwa yang muram itu seketika Sdr. H.A Malik Ismail datang meminta persetujuan saya akan menerbitkannya kembali, sebagai cetakan 12. Moga-moga buku ini memberi faedah kepada pembacanya, terlebih lagi bagi pengarangnya.

Hamka. | Kebayoran Baru, Januari 1970.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *