Keutamaan Mati Syahid dan Tiga Jenis Mati Syahid

Seorang mujahid yang mati di medan pertempuran yang sesungguhnya, boleh jadi darahnya berceceran dimana-mana. Orang awam yang melihatnya pasti akan ngeri, atau malah merasa jijik. Namun di akhirat nanti, darah yang berceceran di sekujur tubuh itu justru akan berubah menjadi bau harum semerbak. Dan hal itu memang merupakan salah satu keutamaan bagi mujahid yang mati syahid di jalan-Nya, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya.

Bungkuslah jasad mereka (syuhada’) sekalian dengan darah-darahnya juga. Sesungguhnya mereka akan datang di hari kiamat dengan berdarah-darah, warnanya warna darah namun aromanya seharum kesturi. (HR. An-Nasai dan Ahmad)

Dalam syariat Islam dikenal istilah mati syahid yang mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah SWT. Setidaknya ada dua macam keunikan orang yang mati syahid.

  • Pertama : mereka yang dinyatakan mati syahid nantinya akan masuk surga tanpa dihisab. Seolah-olah semua
    dosa dan kesalahannya tidak lagi harus dipertanggung-jawabkan nanti di akhirat. Ini adalah cara mati yang aneh sekaligus unik. Karena pada umumnya setiap kita nanti akan dimintai pertanggung-jawaban kelak di yaumil akhir. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk surga begitu saja tanpa proses dihisab, kecuali hanya para nabi dan rasul yang memang makshum. Sedangkan kita manusia biasa, seluruhnya tetap harus melewati prosedur penghisaban di hari kiamat. Kalau sampai ada pengecualian, orang-orang tertentu bisa masuk surga begitu saja tanpa harus lewat jalur hisab, tentu menjadi sangat istimewa sekali. Dan salah satunya yang telah ditetapkan berdasarkan nash adalah mereka yang matinya mati syahid.
  • Kedua : bahwa jenazah orang yang mati syahid itu ternyata tidak wajib dimandikan atau dikafani, cukup dishalatkan dan dikuburkan saja.

Padahal seluruh pemeluk agama Islam diwajibkan melakukan 4 perkara kepada saudaranya yang meninggal dunia, yaitu:

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menyolatkan
  4. Menguburkan

Hukumnya menjadi fardhu kifayah, yakni bilamana sudah ada yang melaksanakannya, lepaslah kewajiban itu dari pundak kita semua. Tapi manakala tak seorang pun yang melakukannya, maka kita semua muslim ini jadi berdosa. Tiba-tiba datang pengecualian yang istimewa, bahwa jenazah orang yang mati syahid tidak perlu dimandikan apalagi dikafani, cukup hanya dishalatkan dan dikuburkan saja. Anomali ini tentu saja menjadi teramat istimewa, khususnya bagi mereka yang mendapatkan kesempatan untuk bisa mati dengan cara syahid.

Tapi…, Lepas dari dua keistimewaan di atas, ternyata ilmu dan pengetahuan terkait fiqih orang yang mati syahid itu justru sangat lemah di tengah kita. Kita hanya tahu kulit-kulit terluarnya saja, tapi detail-detail bagaimana mati syahid itu sama sekali tidak pernah dipelajari secara rinci dan mendalam.

Oleh karena itulah Penulis tergerak untuk membuat semacam catatan kecil dalam buku ini. Isinya membahas seputar masalah mati syahid dengan segala kajian hukum syariahnya. Semoga ilmu yang kita dapat bisa menambah wawasan kita dalam beragama, dan menambah berat timbangan amal kebajikan kita di hari kiamat nanti.

Ahmad Sarwat, Lc.,MA

***

Daftar Isi
Mukaddimah
Bab 1 : Pengertian

1. Bahasa
2. Istilah
a. Al-Hanafiyah
b. Al-Malikiyah
c. Asy-Syafi’iyah

Bab 2 : Keutamaan Mati Syahid
1. Harum Darahnya
2. Tetesan Darahnya Dicintai Allah
3. Ingin Mati Syahid Berulang-ulang
4. Ditempatkan di Surga Firdaus yang Tertinggi
5. Tidak Mati Tetapi Hidup di sisi Allah
6. Tidak Merasakan Sakit
7. Diampuni Dosanya
8. Malaikat Menaungi dengan Sayapnya
9. Memberi Syafaat Kepada 70 Keluarganya
10. Jasadnya Tidak Dimakan Tanah
11. Menikah Dengan 72 Bidadari

Bab 3 : Tiga Jenis Mati Syahid
1. Syahid Secara Hukum Dunia Dan Akhirat
2. Syahid Secara Hukum Dunia Saja
3. Syahid Secara Hukum Akhirat Saja

Bab 4 : Jenazah Mati Syahid Tidak Dimandikan
1. Jumhur UIama
2. Imam Abu Hanifah

Bab 5 : Syarat Mati Syahid
1. Jihad Melawan Orang Kafir
2. Jihad Resmi Program Negara
3. Jihad Bukan Bughat

Baca selengkapnya, download klik di sini. Mati Syahid

Judul: Mati Syahid
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc. MA
Terbit: 9 December 2020
Penerbit: Rumah Fiqih Publishing
Halaman: 47
Legalitas: Waqaf/Gratis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *